Lari di Jembatan IMPRESS, Tingginya Bikin Lutut Lemas

Wednesday, September 27, 2017

Jembatan-IMPRESS-Desa-Pengkol
Lari pagi menyeberangi Jembatan IMPRESS Desa Pengkol




Lari pagi di pedesaan itu menyenangkan. Selain udaranya minim polusi, suasananya yang masih hijau, banyak pohon pohon tinggi dan persawahan yang menyejukan mata, banyak juga tempat atau lokasi yang instagramable.

 "Awas, Ati ati, iki Suro Suro lho!"

Libur tahun baru Hijriyah kemarin, sasi suro, saya coba menguji kekokohan boyok dan dengkul setelah lama terapi dengan cara lari-lari tipis sambil menikmati hijaunya pemandangan desa. Tapi apa hubungannya dengan Sasi suro? "Ah, mitos" itu menurut saya. Namun menurut anggapan orang Jawa, lebih lagi orang di Boyolali di sini yang masih kental suasana mistiknya, menganggap bulan suro itu bulan sial, bulan musibah, bulannya bencana. Maka dari itu pada malam sebelumnya, banyak jalan yang ditutup, dipakai untuk ruwatan dan selamatan. Paginya masih banyak yang enggan keluar karena kepercayaan tersebut. Takut sial.



Waktu dan jarak pun menjawab ujian saya. Boyok dan dengkul senut-senut. Harjimaaan tenan! Sial, walaupun senut-senut, saya mendapatkan track lari yang asyik dan menarik, rasanya pengen berlama-lama istirahat lari, menikmati semilir angin dan foto-foto di sini. Spot menarik yang saya maksud yaitu Jembatan Impress Desa Pengkol kecamatan Karanggede, Boyolali.



Lokasinya lumayan buat pemanasan, hampir 6 kilometer dari rumah mertua, atau sekitar 40 menit dengan pace saya. Jembatan ini menghubungkan antara Desa Pengkol dengan Desa Waru yang dikenal dengan nama Jembatan IMMPRES. Selain sebagai penghubung, juga berfungsi sebagai saluran air atau irigasi. Karena bahasa jawanya saluran air adalah "talang," maka dari itu masyarakat di sini menyebutnya dengan sebutan "Talang Braholo". FYI, saya tidak melihat ada catatan pembangunannya di sekitar jembatan.

talang-braholo
Talang Braholo, saluran air 
Jika dilihat dari arsitekturnya, jembatan ini dibangun sejak jaman penjajahan belanda. Panjangnya 160 meter dan tingginya sekitar 20 meter, mungkin lebih. Tahu dari mana? Lihat saja foto di atas dan bayangkanlah, kepala saya bahkan bisa sejajar dengan pucuk daun jati dan pohon kelapa. Saran saya, jangan lari di atas jembatan ini, karena hembusan anginnya lumayan kencang. Pelan-pelan saja. Kalau lagi sial, bisa terhempas dan nyungsep di sungai dan berujung di kolom surat kabar.



"Ati ati, sasi Suro lho!" wejangan tersebut mungkin ada benarnya juga. Percaya tidak percaya, tiba tiba kamera action yang saya pakai, jatuh! Mungkin karena gekkopod cuma ditaruh di tulang pagar jembatan dengan bidang tidak datar, kurang stabil dan rawan jatuh, belum lagi faktor hembusan angin. Untungnya kamera cuma nyangkut dan tidak nyemplung di kali kemudian hanyut, lutut saya mendadak bisa lemas kalau sampai nyemplung. Tapi ada untungnya juga kamera jatuh. Saya malah menemukan bambu panjang untuk mengambil kamera dan bisa untuk monopod hingga bisa dapat foto dengan angle dari atas. 30 menit habis untuk evakuasi kamera yang jatuh. Pulangnya saya nyegat ojek.


Jadi, kalau pengen lari, dapat keringat dan dapat hiburan yang menyejukan mata, trabas saja rute ke Jembatan Impress. Waktu yang tepat adalah jam 6.30 pagi atau sore sekalian.


@slamsr
27SEPT2017

You Might Also Like

6 komentar

  1. Wah cakep banget ini jembatannya. Like this. ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya cakep. maka dari itu banyak pemuda yang hobi nongkrong di sini

      Delete
  2. Oalah Mas, nekad benerr, dredeg aku bacanyaa..

    ReplyDelete
  3. suk mrene nggowo garisan ah, ben iso ngukur dewe dowone lan duwure sepiro

    ReplyDelete
    Replies
    1. sekalian nyemplung, gawe ngukur jerone kaline

      Delete

Followers

Find us on Facebook

Loenpia.net

ID Corners

Statistik

Blog