Pengalaman Pertama Canyoning Kalipancur - Muncul Banyubiru

Thursday, June 04, 2015



"Kadang, bahagia itu saat melihat kawan kita sengsara, jatuh, kepeleset, tercebur, kejlungup kesakitan tapi  masih bisa tertawa meringis menikmati kesengsaraannya" sebenarnya kasihan dan khawatir juga sih, tapi yang sengsara malah ikut tertawa senang. Begitulah kira kira yang saya rasakan selama hampir 3 jam Canyoning di aliran Air Terjun Kalipanur sampai di Muncul-Banyubiru.

Pria itu harus tau cara menikmati hidup. Daripada ke gunung yang kini disesaki pendaki instant bertongsis, pemandangan terhalang oleh deretan tenda, sekedar berjalan pun seperti tak ada celah untuk berpijak. Kami lebih memilih untuk canyoning menyusuri sungai yang jarang dilirik.

Canyoning adalah gabungan antara panjat tebing, treking, berenang, bergelantungan, Jatuh, terjelungup, basah dan kedinginan. 50 persesn sisanya adalah tawa ria dan bermacam kejutan. Sungai dan jeram yang deras adalah jalan kami. Tebing dan bebatuan adalah teman kami sepanjang penyusuran. Resiko luka dan kecelakaan akan selalu ada, namun dapat diminalkan dengan alat pendukung, pengaman yang memadai dan mematuhi prosedur.

Dhave - Leader sekaligus Sweaper kita, oh iya dia jomlo dan pacarable lho!

Kegiatan ini bisa dibilang tidak murah. Mengenakan sepatu dan helm hukumnya adalah wajib dipakai, selain itu butuh peralatan seperti seat harness, webbing, cincin kait, descender, ascender, tali prusik, dan 2 buah tali karmantel yang harganya tentu lebih mahal dari sekardus mie rebus. Untunglah ada mas Dhave dengan ikhlas memfasilitasi sekaligus mengajarkan kami cara tali temali dan pengetahuan dasar tentang panjat tebing secara on the spot. terima kasih mas dev, semoga segera ketemu jodoh #eh

Tibalah saatnya praktik bergelantungan menuruni tebing. Carmantel dimasukan ke dalam cincin kait lalu disangkutkan ke seat harnes. Pada awalnya merasa sedikit canggung, masih mengeja dimana posisi tangan kiri dan kemana seharusnya tangan kanan berada. Kedua kaki sebagai tumpuan dan mencari pijakan. Guyuran air dari atas lumayan deras menerpa kepala, sedikit saja kepala miring maka telinga akan kemasukan air. Barulan turun perlahan. tap... tap.. tap...(sebelas duabelas seperti di film Mission impossible, ketika Ethan rapling di menara Burj Khalifa Dubai dengan kepala di bawah). busyeeet...

Tempat prosotan favorit saya, tapi tetap keselamatan adalah nomor satu
Kepala di bawah? bhahaha... saya tidak seekstreem dan senekat itu. Saya masih ingin hidup dan mengganti popok anak cucu kelak. Dua kali menuruni tebing saya sudah tidak canggung dan mulai keenakan, sampai mengulangi prosotan dua kali. Turun prosotan, naik lagi dan kembali prosotan. Dhave cuma bisa menghela nafas dan bilang kami ini "TUMAN". Saya sudah mulai bisa menikmati asyiknya canyoning dan mencoba menguasi jurus pengendali air (water bender).

Ini cara kami menikmati hidup, Ngeteh di pinggir aliran sungai kalipancur

Risiko yang perlu diwaspadai selain dengkul sobek, kulit lecet, pundak memar, pantat bolong terkena batu, dan tertancap pepohonan berduri adalah hipotermia, yaitu kedinginan dan kehilangan panas tubuh. Coba bayangkan, hampir 3 jam bermain air. Alhamdulilah baju yang saya pakai ini cukup bisa menghalau air dan menjaga hangat tubuh walaupun bukan wet suit. Saya malah khawatir pada tubuh bagian bawah yang mulai mengekerut.

Setelah melompati 3 macam air terjun dan berbagai jebakan, adalah pilihan bijak bila menghangatkan tubuh dan menambah energi dengan menyesap segelas teh hangat. Dhave langsung mengeluarkan kompor portabel dan spiritus dari ransel ajaibnya dan mulai memasak air. Kompor dengan spirtus sebagai bahan bakar menurut saya adalah pilihan yang tepat. Bayangkan bila memakai kompor gas? repot banget kan? sekali lagi #thanksmasDhaVe (angkat gelas).

Goa di balik air terjun, ada rasa yang aneh di sini.

Ada 7 air terjun dengan beragam ketinggian dan kesulitan yang kami lewati dengan rapling. Tingginya mulai dari 5 sampai 25 meter. Nah, di salah satu air terjun terdapat sebuah goa yang tersembunyi di baliknya, Dhave menyebutnya goa pertapaan. Hawa magis sekelebat tersirat di sini. sangat misterius. saya mengucapkan salam untuk masuk ke goa ini.

Beribu ribu tetesan air jatuh dari atas tebing bagaikan tirai menjadi penutup yang indah di akhir jeram. Karena setelah ini tidak ada jeram dan arus sungai berangsur makin tenang. Perjalanan masih menyisakan 1.5 jam lagi menyusuri sawah dan perkampungan hingga tembus di jalan raya Muncul Ambarawa.

Yuk, Kapan Kita Kemana?

Berhubung ada insiden yang tidak bisa saya ceritakan dan cukup dirasakan saja, bisa tonton  VIDEO Canyoning Kalipancur berikut untuk lebih lengkapnya. #thanksmasDhaVe untuk foto, video, kompor dan ransel ajaibnya.

You Might Also Like

7 komentar

  1. wah, seru mas, udah lama gak naik gunung, terakhir SMA :D

    ReplyDelete
  2. Wah...asyik, keren, dan seru canyoning nya.. penuh dengan tantangan!

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau untuk yang pemula seperti saya ini, tantangannya banyak

      Delete
  3. mas Dhave itu rambutnya kayak davy jones ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. bhahaha davy jones, itu bukan rambut mba ai. tapi carmantle
      salah fokus nih... mimik dulu sanah

      Delete
  4. Replies
    1. Cerem, tapi asyik itu. Impas lah sama asyiknya

      Delete

Followers

Find us on Facebook

Loenpia.net

ID Corners

Statistik

Blog