Semalam di Homestay Nomor 15 - Desa Wisata Lerep

Monday, October 16, 2017


Indrokilo - Desa Wisata Lerep mendadak diguyur hujan lumayan deras, tepat setelah waktu sholat magrib. Saya dan para tamu bergegas turun dari khayangannya kota Ungaran tersebut menuju homestay masing-masing. Perjalanan turun bukanlah perkara yang mudah, terlebih jika mengendarai motor matic di jalan turunan, hujan, licin dan gelap karena kurangnya penenerangan. Terlebih bagi yang pertama kali kemari. Harus hati-hati.

Dalam rintik hujan, saya ditemani oleh Ibu Sekdes Lerep yang masih muda dan murah senyum. Dia memandu saya dari jok belakang menuju Homestay (rumah penduduk) nomor 15 milik Mas Moko. Rintik hujan semakin deras, karena sudah dekat, kami nekat menerabas hujan tanpa dibungkus plastik atau jas hujan. Basah basah sekalian deh."Kepalang tanggung, bablas saja nggih, mbak Sri?" Tegas saya kepada Sekdes Lerep.


Sapa Ramah Pemilik Homestay Nomor 15

10 menit yang menegangkan full cengkraman rem pun berakhir di depan teras Homestay. Setelah melepas jaket dan sepatu yang basah, Saya pun dipersilakan masuk ke dalam rumah oleh empunya rumah, Mas Moko. Selain senyum ramah, saya juga disuguhkan kopi hangat dan sepiring gorengan. Cocok nih pas hujan-hujan gini.

"Pak, ini kopi khas lerep juga?" Tanya saya ketika disuguhkan 2 gelas kopi panas.

"Ndak mas, itu kopi sachetan... hihii" Tersenyum sampai giginya yang ompong kelihatan semua.

"Owh.. Saya kira kopi produk lokal Desa Wisata Lerep sini pak" Setelah saya cium aromanya, ternyata kopi sachet yang ada gambar kapal berapi.

Pertanyaan saya bukan tanpa alasan, karena tadi sebelum hujan di Indrokilo, saya disuguhi dan dikenalkan dengan bemacam produk, jajanan, makanan dan oleh-oleh khas dari Desa Wisata Lerep. Seperti Kopi pletok, gula aren, wedang jahe, bermacam keripik, bubur suweg dan lodeg. Oh iya, keripik talasnya gurih dan renyah, tidak gatal di lidah. Saya beli 2 bungkus untuk cemilan.



"Nah, kalau tahu petis, mendoan, bakwan dan roti bakarnya saya yakin ini tidak goreng sendiri"

"Kok bisa tahu, mas?"

"Saya juga sudah sering beli gorengan di alun-alun Ungaran, pak"

Hujan sejak bakda magrib belum juga nampak akan reda hingga pukul 9 malam. Di luar masih gerimis dan dingin, namun suasana di dalam rumah Mas Moko semakin hangat. Kami mengoborol mulai dari asal-usulnya mana, kerja di mana dan merembet ke mana-mana.

"Waktu SMK, saya dulu juga sering dolan ke Gunungpati. Bareng Pak Henry dan Pak Yanto Jahit" Pak Tulus, bapaknya Mas Moko bercerita tentang kenalannya yang beda generasi dengan saya.

"Oh, iya. yang rumahnya dekat pohon asem kembar?" Saya pun membalas sekenanya dengan sedikit improvisasi.

Selain Mas Moko juga ada Pak Tulus yang menemani saya di homestay.  Jurus benang merah persaudaraan ini sangat ampuh dalam membina percakapan. Sudah seperti jejaring pertemanan di social media, Saya temannya A, dan ternyata A ini temannya Z. Saya mendapatkan informasi dan sudut pandang baru tentang Wisata Desa Lerep lebih banyak di homestay, seperti kenapa Puncak ngipik pernah ditutup, sejarahnya Embung Sebligo, seberapa kompaknya warga Lerep dan faktor kenapa gula aren kualitasnya bagus. Oh iya, Selisih umur saya dengan Pak Tulus ini 50 tahunan.

Homestay Mas Moko - Desa Wisata Lerep

Homestay milik Mas Moko ini mempersiapkan dua kamar untuk menginap tamu. Dalam satu kamarnya terdapat dua kasur kapuk tanpa dipan dan dua selimut lengkap dengan bantal dan guling. Mirip di kost-kostan, namun dalam suasana pedesaan yang asri. Cukup nyaman untuk para backpacker dan lighttravel.

Ketinggian desa lerep yang sekitar 600Mdpl, lumayan dingin ketika malam, terlebih jika hujan seperti malam ini. Untuk menangkal dinginnya lantai di ruang tengah dan kamar tamu, lantai pun dilapisi karpet berbulu. FYI; airnya juga dingin, jadi buat kamu yang tidak kuat dingin, saya sarankan minta dimasakin air panas saja. Daripada kenapa-kenapa seperti teman saya yang katanya "meleleh" ketika turun dari Lerep.


Kemarin saya menginap sendirian dalam satu homestay, rasanya lega dan sepi. Namun bila ingin lebih ramai, kumpul satu anggota keluarga atau lebih dari 8 orang dalam 1 homestay, nanti bisa disediakan oleh pokdarwis Desa Wisata Lerep"Ada 25 lebih homestay yang sudah siap" Jelas Sri Lestari, Sekdes Lerep.

Esok harinya, sepulang tracking dari Puncak Ngipik dan Embung Sebligo, sudah ada teh manis panas dan pisang goreng. Tidak hanya itu, ketika berpamitan untuk pulang, saya masih dibawakan 2 sisir buah pisang untuk dibawa pulang. "Sudah, dibawa pulang saja. Ini hasil kebun sendiri" Kata Ibu pemilik homestay. Sungguh homestay dalam keluarga yang sangat ramah.

@slamsr

You Might Also Like

12 komentar

  1. Kemaren aku disangoni gorengan sama bapak pemilik homestay 9B.

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku kira mau disangoni anak lelakinya #eh

      Delete
    2. anakku masih kecil semua om...lagi cewek semua....heheh

      Delete
  2. Kemaren aku disangoni gorengan sama bapak pemilik homestay 9B.

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih sudah mau menginap di gubug saya...maaf klo kurang nyaman ya...heheh...maklum masih newbie....salam

      Delete
    2. tetap semangat, Pak Soer.
      Malamnya saya pengen dolan ke homestay 9B, namun terlhalang hujan dan kemalaman

      Delete
  3. Asik juga ya, nginep disana. Sudah disuguhi macam2 makanan, masih disangoni hasil kebun..haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin nanti kalau mau kunjungan wisata ke Lerep bisa langsung kontak ke homestay nomor 15, Mas Moko

      Delete
  4. Jadi Lerep itu ada dimana, mas? Gak dapat informasi lengkap soalnya dan males googling ahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe iya kurang lengkap, nanti aku revisi. Lerep berada di kecamatan ungaran barat kab Semarang Jawa Tengah,, di lereng gunung Ungaran.

      Delete
  5. Kasihan mas temannya meleleh saat turun dari puncak ngipik...

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, mbaknya kenal sama temen saya ini? bhahaha

      Delete

Followers

Find us on Facebook

Loenpia.net

ID Corners

Statistik

Blog