Terseok di Gunung Telomoyo dan Andong

Tuesday, November 27, 2012



Tantangan untuk berlari dan mendaki akhirnya datang lagi, tapi kali ini half marathon langsung di dua Gunung, yakni Gunung Telomoyo dan Andong. Saya terus bertanya pada diri sendiri (ngomong sama kaca), "apakah saya bisa?" olahraga saja paling cuma basket, itu pun satu mingu sekali maximal 3 jam, selebihnya paru-paru ini dipaksa menghirup asap knalpot setiap pagi di jalur Gunungpati - Ungaran. Tapi bagaimana saya bisa tau batas kemampuan fisik kalau tidak mencoba?. HAJARRRR BLEHHH!!

06:43 15/11/2012 Dusun Wates, Getasan Salatiga menjadi titik awal Pelarian. Aroma embun di dedaunan masih tercium, langit sudah terang namun matahari tertutup awan gelap. Jalan aspal basah menuntun kami menuju pintu gerbang Gunung Telomoyo. Kami berlari ringan sambil menikmati pemandangan para petani yang merumput di kebunnya, ibu ibu menjemur cucian, anak kecil kucel muka bantal belum mandi bermain di depan rumah, dan senyum sapa hangat para penduduk menawarkan diri untuk mampir "pinarak mas".

Tahun 2008 saya pernah kemari bersama 5 sahabat dengan naik motor, tinggal narik gas motor bebek 100cc, oper gigi 1 dan 2 sudah bisa sampai ke puncak dalam waktu 15 menit tanpa keringat, namun sekarang saya berlari, ya berlari!!. Saya harus pintar pintar mengatur irama pernafasan, menghirup dan membuang oksigen bila tidak ingin nafas putus di tengah jalan, saya juga harus cermat memilih pijakan bila tidak ingin tergelincir kerikil aspal yang rusak.

Lari Menuju Puncak Gunung Telomoyo


foto by dhave

Akhirnya sampai di puncak telomoyo pukul 08:56 dengan waktu tempuh 2 jam. Di ujung pendakian saya sudah ditunggu rekan lainnya dan dua sejoli yang sedang memadu asmara (jadi teringat masa muda dulu #HALAH). Di puncak kami hanya sebentar, istirahat 10 menit dan langsung menggelinding kebawah, sedangkan dua sejoli tadi tetap cuek memadu kasih dibawah tower.

"lari lagi?" Untuk turun ke bawah hanya butuh waktu 90 menit, namun turun gunung dengan berlari malah membuat lutut dan pangkal selangkangan saya kontraksi, nyeri terasa sampai kepala ketika salah tumpuan, serasa ada sengatan listrik ketika sendi dan tulang berbenturan. Ide menelanjangi kaki diwarung dan menyantap semangkok mie rebus pakai telor adalah obat pelepas lelah yang lumayan ampuh, pokoknya Ibu yang bikin mie rebus layak masuk surga.



"jangan tanya kepada rumput yang bergoyang" Masih tersisa satu gunung lagi, kami menelusuri kampung untuk mencari jalur pendakian dengan bermodal selembar peta dan lambe "mulut" untuk bertanya kepada penduduk. Alhamdulilah siang bolong seperti ini, cuaca tidak begitu terik, namun sudah cukup untuk menghitamkan kulit bagi yang tidak memakai sunblock. Udara juga cukup bervariasi, silih berganti dengan harum pupuk kandang yang memaksa saya menyumpal lobang hidung.

Senyum Bocah Gunung Andong


Petani Gunung Andong


12:04 Sampai di lereng gunung Andong udara kembali segar, bocah bocah andong dan petani menyambut kami dengan senyum. Mayoritas penduduk disini adalah petani sayuran dan peternak, hampir tiap rumah punya kandang ternak dan rumah-rumahan kecil beratap plastik untuk pembibitan.

Penyesalan pun dimulai, awal pendakian sudah dihadang oleh hutan pinus dengan kemiringan tanah 45 derajat. Kami melewati jalan setapak berbentuk anak tangga, yang kalau dihitung mungkin ada sekitar 4000an anak tangga.

Debar jantung ini mengusik elang di dahan pinus, aliran darah di pembuluh nadi leher kiri serasa bocor tembus ke telinga, kaki ini berhenti tiap 10 langkah, lutut pun serasa dibandul. “ah sudah setengah jalan, rugi kalau tidak sampai pucuk” gumam saya sambil memegangi dengkul. Setiap kali berhenti saya mengatur pernafasan, menetralkan detak jantung dan satu liter air mineral bocor di lambung selama pendakian

Bermain main dengan gravitasi, badan ini terasa berat sebelah kiri, ini yang hampir kami semua rasakan, terang saja karena sisi kiri kami adalah jurang ditambah kabut tebal dan tiupan angin. “SEMANGAT, KURANG 1/4 LAGI!” Tak disangka tulisan kreatif yang menjurus ke vandalisme menambah semangat sekaligus melemaskan lutut, “APAAA? Kurang 1/4?”.



Akhirnya sampai juga di puncak, hampir 1 jam kami habiskan waktu di puncak sembari menunggu rekan yang tertinggal jauh dibelakang. Namun sangat disayangkan awan turun tepat dibawah kaki kami, pemandangan di kanan kiri hanya hamparan putih awan dengan jarak pandang tidak ada 50 meter. Saking lamanya di puncak, saya sampai sempat foto gak jelas kaya gini.







turun dari gunung andong juga membutuhkan ketelitian ekstra, jalan setepak yang kami lewati tidak ada 1 meter lebarnya, sekali tergelincir atau tertiup angin bakal langsung Wassalam, lenyap di kedua sisi jurang.

Sampai di bawah, tempat tadi kami memulai perjalanan ada teman saya yang hampir putus asa, mengeluh kaki dan dengkulnya rontok semua. Pastilah dia kecapean, karena baru sekali mendaki langsung dihajar 2 gunung. Tapi kami harus terus melanjutkan perjalanan sekitar 4KM untuk sampai di jalan raya bila tidak ingin ketinggalan bus yang hanya beroperasi sampai jam 4 sore.

Total pelarian marathon di Gunung telomoyo dan Andong kali ini adalah 34.85KM dengan waktu tempuh 8 jam 41 menit, begitulah yang tercatat di Endomondo hape saya. Sampai dirumah langsung KO, paha dan betis njarem semua, But it’s fun dan tak sabar mendaki gunung lainnya KEELAASSSS.




You Might Also Like

14 komentar

  1. Wah...kayaknya keren pemandangannya men.

    ReplyDelete
    Replies
    1. pemandangannya keren mas, tergantung dari sudut yang mana.
      kalo pas di lereng ya bikin pusing

      Delete
  2. wow...lari naik gunung ? wah ide bagus itu, mantab....

    ReplyDelete
    Replies
    1. butuh latihan ekstra, dapet udara segar, dan pemandangan

      Delete
  3. luar biasa, kuat euy...
    sempet ngobrol ama kabut nggak? :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. bhahaha, kita ngobrol dari hati ke hati langsung ke jantung

      Delete
  4. Hiking aja ngos-ngosan eh busyeeet ini pake lari.
    Salut lah!
    Btw suka deh pemandangannya, ngademin hati banget yah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngademin ati manasi dengkul mba, tapi asyik. menikmati perjalanan byanget

      Delete
  5. munggah gunung telomoyo mbiyen numpak sedan, sedelok sedelok mobile rak kuat nanjak, penumpange meduk sik, surung sitikkkk, numpsk meneh, meduk meneh... maklum mobile wis tuwo... :D

    ReplyDelete
  6. BAHAHAHAHHAHAA planking barang ik ^^

    ReplyDelete
  7. mantaff masbro ini.. waktu gw naik gunung, gw br sdar ga ada gunanya motivasi kalo asam laktat sudah menumpuk puk puk.. dan waktu sampe di puncak, gw br sdar kalau anak mapala itu keren banget, haha..

    ReplyDelete

Followers

Find us on Facebook

Loenpia.net

ID Corners

Statistik

Blog