
Untuk pertama kalinya saya lari berjamaah, ramai ramai berlari bersama komunitas pecinta lari, namanya @indorunners. Tidak ada keterangan detail tentang komunitas ini, yang saya tau Indorunners adalah komunitas pecinta lari di semarang dan mempunyai anggota di setiap kota.
Saya mulai bergabung pertengahan bulan maret di group facebook, setelah direkomenasi oleh juragan genjer salatiga untuk bergabung daripada galau bersolo karir, lari keliling kampung sendirian seperti orang stress.
IRsemarang (singkatnya) mempunyai agenda rutin berlari setiap hari rabu malam. Mengitari pusat kota dengan start di pandanaran, namun saya rasa kok jauh sekali dari tempat tidur saya ya?, dan waktunya pun malam pula bhahaha #alesan. Khaleed dan Imam Santosa adalah dua anggota yang aktif mondar mandir di timeline dan menjadi motor di indorunners semarang.
Selasa 2 Mei 2013 menjadi malam bersejarah bagi para blogger seantero semarang, Indonesia dan bisa jadi sedunia karena baru kali ini ada kompetisi, sebuah liga khusus untuk para blogger layaknya perhelatan kompetisi sepakbola. Semarang Blogger Festival yang digagas oleh DotSemarang ini adalah malam apresiasi bagi para blogger yang sudah berkompetisi dengan konsisten melukis keindahan Indonesia di dunia maya melalui media blog.
"3 idiots" mengisahkan 2 orang jenius yang mencari jejak 1 orang super jenius yang sudah lama terpisah. sepertinya film ini sudah diputar berulang kali di televisi nasional. Saya bisa dibilang "telat" menonton film ini andai saja tidak dikasi DVD sama mantan, terus diajak nonton bareng berdua di akhir pekan #eh.
Apa hubungannya dengan saya?
Jadi dulu saat masih SMP, saya diberi julukan "mafia matematika" karena mendapat rekor tertinggi di kelas selama 2 tahun, di kelas 1 dan kelas 2. Saya mudah mempelajari matematika karena suka dengan metode mengajarnya. Materi yang paling saya kuasai adalah phytagoras, tapi ya itu cuma matematika saja, pelajaran yang lainnya biasa saja.
Saya juga suka fisika, menghitung kecepatan, mengubah satuan dan ukuran komponen listrik. Sampai puncaknya adalah ketika kelas 3. Kegemaran saya mengutak-atik rumus dan soal konversi runtuh karena diajarkan oleh guru yang killer, tempramen, ucapannya pedas dan berkumis tipis. Sumpah saya jadi malas belajar fisika lagi.

Kabar gembira, paling tidak buat saya sendiri karena sepatu basket dan sepatu running saya bakal tidak nganggur dan menjamur di rak. Lutut saya sudah berangsur pulih setelah hampir 4 bulan recovery dari cidera. Tempurung lutut sudah tidak nyeri ketika diajak melompat dan berlari, ya ya ya... tidak boleh diforsir, lari lari ringan saja dulu, 3 kilometer cukup untuk pemanasan dan dilanjut bakset di sini, di lapangan Basket FMIPA UNNES yang hijau.
HAE... saya bernostalgia "lagi" dengan lumut, batu dan gemercik air jatuh paling indah di lereng gunung Ungaran. Kali ini saya memandu legiun asing, 4 orang master Biologi dari Salatiga menjelajah Curug Lawe dan Benowo. Melakukan perjalan dengan manusia manusia ini sangat unik, paling tidak saya sedikit tau tentang nama latin atau ilmiah bermacam pepohonan, paraserianthes falcataria ( sengon) dan tectona grandis (jati).
Setibanya di Pos jaga sekaligus rumah kabag (mandor) perkebunan PT. Cengkeh Zanzibar, yang kami cari hanya mencari 1 hal, yaitu indomie. Ya... betul indomie rebus pakai telur ceplok kebul-kebul. Sepertinya energi dari segelas milo dan 2 potong roti pisang keju dari rumah sudah terkuras di 9 kilometer perjalanan Gunungpati - Brangjang - Dolo - Kalisidi (jalan kaki).

Untuk masuk wisata cukup membayar karcis 4 ribu per pantat. Pukul 9:50 kami lanjutkan perjalanan, masuk dalam rimbunnya kebun cengkeh sekitar 70 meter, kemudian belok kiri turun menyusuri parit, sudah ada papan penunjuk arahnya kok.
Walaupun sudah tidak ada jalan yang rusak karena longsor, namun harus tetap ekstra hati hati, karena kombinasi lumut dan air di sepanjang parit dapat membuat anda tergelincir. Pastinya anda tidak ingin terjun bebas bukan? karena sisi kiri adalah sungai dengan jeramnya yang deras dan berbatu, kedalaman sekitar 30 meter. Terkadang juga ada ranting bergigi piranha dari tanaman yang menjulur mirip pohon aren, siap mencantol apapun, termasuk telunjuk saya yang usil megang megang.

Setibanya di Pos jaga sekaligus rumah kabag (mandor) perkebunan PT. Cengkeh Zanzibar, yang kami cari hanya mencari 1 hal, yaitu indomie. Ya... betul indomie rebus pakai telur ceplok kebul-kebul. Sepertinya energi dari segelas milo dan 2 potong roti pisang keju dari rumah sudah terkuras di 9 kilometer perjalanan Gunungpati - Brangjang - Dolo - Kalisidi (jalan kaki).

Untuk masuk wisata cukup membayar karcis 4 ribu per pantat. Pukul 9:50 kami lanjutkan perjalanan, masuk dalam rimbunnya kebun cengkeh sekitar 70 meter, kemudian belok kiri turun menyusuri parit, sudah ada papan penunjuk arahnya kok.
Walaupun sudah tidak ada jalan yang rusak karena longsor, namun harus tetap ekstra hati hati, karena kombinasi lumut dan air di sepanjang parit dapat membuat anda tergelincir. Pastinya anda tidak ingin terjun bebas bukan? karena sisi kiri adalah sungai dengan jeramnya yang deras dan berbatu, kedalaman sekitar 30 meter. Terkadang juga ada ranting bergigi piranha dari tanaman yang menjulur mirip pohon aren, siap mencantol apapun, termasuk telunjuk saya yang usil megang megang.


"You Don't have to RUN fast, You just have to RUN"
"Lhoh sore gini kok lari lari mas?" pertanyaan yang sama persis dilontarkan 2 tetangga saya yang kongkow di depan rumah, "monggo pak bu, cari keringat" balas saya sambil berlari menjauh.
Tetangga saya mungkin sudah bosan melihat pria bercelana pendek berlarian di depan rumahnya sekitar pukul 4.30 sore sampai menjelang magrib, kemudian setiap sabtu pagi mengukur jalan di daerah gunungpati dengan menenteng botol minum 200ml dan handphone layar 4 inchi di tangan kiri.

