Naik Gunung Telomoyo Jalur Ngrawan, Lebih Menantang

Friday, October 02, 2015


"pusing mas, sik sik mandeg sik..." tiba tiba rumput, dahan pohon dan langit jadi kuning, Duh! lalu saya ambil posisi rukuk pegang dengkul. Baru kali ini saya nanjak gunung sampai pusing keliyengan. Dada rasanya mau meletus. Perasaan, ketika naik gunung Merbabu yang lebih tinggi, gak semenyiksa ini kok. Ah... pendakian Gunung Telomoyo Jalur Ngrawan Kalipancur ini sungguh di luar dugaan. *seret dengkul*

Peta Rute Pendakian Telomoyo Jalur Ngrawan  by Dhave
Garis merah adalah Jalur naik, sedangkan warna biru adalah jalur turun. Kenapa jalur turun lebih jauh 4 kali lipat dari jalur naik? Bhahaha... nanti saya ceritakan kronologisnya.

Kalau ada yang bilang Gunung Telomoyo bisa didaki sampai puncak tanpa keringat, Memang benar adanya, bahkan bisa disambi mesra-mesraan. Yaitu dengan cara naik kendaraan bermotor. Dahulu pertama kali ke sini saya juga naik motor. Berboncengan! #eaaa. Saya juga pernah naik Telomoyo dengan cara berlari meliuk liuk dari pos jaga sampai puncak pemancar lewat jalur aspal. Kali ini lain cerita, saya mendaki Gunung Telomoyo dari sisi timur. Sungguh bikin lutut sengsara. Mau tau ceritanya? awas jangan tengok ke belakang dan berkedip...

Prasasti Ngrawan, Courtesy by Dhave
"MY TRIP... MY MUNAAAAH... MY TRIP... MY MUNAAAAH..."

Singkat cerita, Ketika halimun masih menyelimuti lembah, kami bergegas melaju kendaraan menuju Kalipancur. Lokasinya tidak jauh dari wisata Air Terjun Kalipancur, tepatnya berada di Dusun Ngrawan Jalan Kalipancur RT 6 RW 1 Kecamatan Getasan Kab. Semarang. Dari Prasasti Ngrawan menuju Pos 1 Watu Slonjor kami lalui dengan menyiksa motor matic sampai bau gosong. Entah vanbelt atau kampasnya yang gosong. Namun lumayan lah, sepertiga perjalanan telah dilalui tanpa keringat. Awas, pendakian baru saja dimulai.

Siapa bilang gunung pendek itu mudah didaki? Rumangsamu!!! bhahaha... justru gunung pendek yang ketinggiannya dibawah 2000 mdpl mempunyai kemiringan yang curam lho.

Benar saja, dari Pos 1 Watu Slonjor langsung dihajar dengan kemiringan yang menyiksa lutut. Saya ngos-ngosan meredam detak jantung. Dhave dan Bejo, dua teman saya persilakan mendahului di depan. Si Bejo yang berambut avro berada di posisi paling depan. "Jalannya kencang seperti celeng" kalau Dhave bilang. Saking kencangnya, saya ketinggalan jauh. Pantas saja, betisnya memang seperti ukiran Jepara.

Belum juga sampai Pos 2, ketinggian 1300mdpl. Saya sudah KO. "sik sik mas, pusing, aku mandeg sik" sms saya kirim ke Dhave. Padahal cuma jalan lambat dan banyak istirahatnya, namun isi dada kiri berdegup kencang di luar kontrol. Kepala terasa pening, warna daun dan rumput jadi kuning tak jelas. Saya menenangkan diri dengan posisi rukuk, memegang dengkul dan menundukkan kepala. Perasaan, naik Gunung Merbabu yang tingginya 2 kali liat juga tidak seberat ini. hmmm... saja jadi curiga dengan apa yang masuk di perut tadi pagi. Jangan-jangan ini efek sarapan sepotong martabak telor sisa semalam? atau efek samping dari lemak perut yang memuai? atau semata karena mesin jarang "dipanasi?". hmmm...

"Pie? Aman?" sms dari Dhave muncul di layar sentuh
"Aman" padahal masih pusing
"50 meter seko pos 2. Enak"
Dhave turun mencari saya dan bertemu di Pos 2. Kami istirahat lumayan lama di batu besar sambil diskusi soal perbedaan kotoran hewan karnivora dan herbivora, kebakaran hutan dan gunung yang tak wajar,  hingga curhat intim sesama laki laki.

Watu Telu dan kisah keramatnya
Sampai di Watu Telu, sekitar 50 meter dari Pos 3. Berdasarkan tulisan pada sebuah papan yang ada di sana, batu batu ini sepertinya disakralkan. Diterangkan bahwa menurut legenda Rawa Pening, batu batu ini dahulunya adalah tempat pertapaan Baru Klinting. Kemudian, menurut buku riwayat hidup Ir. Soekarno Presiden pertama RI, tempat ini dahulunya menjadi tempat pertapaan beliau selama 99 hari.

Pemandangan Rawa Pening, dilihat dari puncak bukit Pos 3 ketinggian 1500mdpl
Di Pos 3, pucuk bukit pertama telah dilalui. Dari sini saya bisa mendengarkan suara gemercik air terjun bernama Air Terjun Keramat. Rawa pening juga nampak indah dari pos 3 ini. Awas, dari sini Medan makin ekstream. Kemiringan di atas 70 derajat. Jadi, kumpulkan tenaga dan kuatkan lutut.

Zona Ekstreem, Pendakian Gunung Telomoyo Jalur Ngrawan
Ternyata di Puncak Tanjungmoyo ini sudah ada lima anak dusun Pandan yang sedang membuat jalur pendakian.  Katanya, mereka jadi pemandu di Jalur ini dan sudah 2 hari berada dalam tenda biru ini. Mereka survival di tempat ini, mungkin lebih tepatnya gunung ini adalah tempat mereka bermain. Berbekal golok, ubi, tebu dan termos air panas yang sudah kosong.  Nampaknya 1 botol air mineral bakal membuat mereka girang.

Saat di puncak Tanjungmoyo, puncak terakhir sebelum puncak Telomoyo, saya memutuskan untuk menghentikan pendakian. Padahal Puncak Telomoyo sudah terlihat jelas dengan pemancar warna merah putih menjulang ke langit. Selain belum ada jalan, saya juga mempertimbangkan bagaimana untuk kembali dengan utuh. Mount not altitude but attitude

Courtesy by Dhave
Saatnya mengisi tenaga untuk bekal turun ke bawah. Panaskan air teh 1 ceret penuh di atas trangia. masukan sedikit gula, ditambah tebu sebagai pemanis rasa dan batang serai sebagai pewanginya.
Rasanya bagaimana? CAMPUR ADUK! bhahaha... tapi cukup nikmat untuk penghangat di pucuk gunung seperti ini. Anggap saja wedang Uwuh.

Sebagai pengganjal perut, mie instan tanpa serbuk cabe pun sudah berasa makan di Rumah makan padang Bundo. Kami makan begitu lahap dengan sumpit yang saya dapatkan dari batang rumput. Semuanya dari alam ini gratis, selayaknya kita pergunakan dan jaga dengan bijak.

GRATIS? iya Gratis. Walaupun 3 botol mineral dan mie instan harus bayar, namun senyum dan tawa seteleh ada yang hilang dari rombongan dan berkumpul kembali, itu Gratis. Iya, Priceless.







"MY TRIP... MY MUNAAAAH... MY TRIP... MY MUNAAAAH..."

You Might Also Like

7 komentar

  1. luar biasa catatannya mas, terima kasih...

    ReplyDelete
  2. Replies
    1. perbatasan mas, antara salatiga, magelang, ambarawa juga bisa ikut ada jalan tembus ke banyubiru

      Delete
  3. Wuah, la kalau ke puncak Telomoyo motoran seni mendaki gunungnya kuraang hehehe. Kayaknya seru dan menantang, apalagi lihat treknya menanjak itu. Benar, di Jawa Timur saja,. Gunung Penanggungan setinggi 1653 mdpl treknya bikin lemas lutut daripada naik Gunung Panderman di Batu 2.000 mdpl hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. seni memainkan gas dan rem mas... buat yang suka naik motor.
      kalau yang suka jalan, ya jalan kaki
      kalau kita kita ngesot sahaja....

      betul, gunun yg dibawah 2000 kemiringannya lebih curam

      Delete

Followers

Find us on Facebook

Loenpia.net

ID Corners

Statistik

Blog