Jalur Berduri Gunung Merbabu


"Heyyy... yang bernama Tony Matheo Takaeb, sepertinya kamu harus dikasi pelajaran soal navigasi di gunung!!!"
mungkin ada benarnya juga yang bilang "naik itu susah, giliran turunnya lebih susah". Apalagi posisinya sedang sakau pesona puncak Kenteng Songo Gunung Merbabu, tetapi secepatnya harus menuruni gunung yang butuh dengkul ekstra, ditambah tanpa cadangan air dan perut keroncongan.

Akhirnya kulit jari kaki kanan dan kiri jebol setelah menuruni Kenteng Songo. Jalur menurun sejauh 1 kilometer yang berbatu, bepasir dan berdebu memberikan tekanan yang berlebih pada lutut dan kaki. Kulit kaki terluar yang tanpa pelindung, tidak kuat lagi menahan gesekan plastik keras dari sandal gunung. setiap langkah kaki adalah sebuah siksaan. Plester pun tidak banyak membantu, mau telanjang kaki juga bakal tambah parah. Mau nekat?


Sampai juga di pemancar, persimpangan Jalur Cuntel dan Thekelan, saya langsung lepas sendal dan cari pengganjal perut. Wafer rasa strobery di ransel Dhave setengahnya lumer dalam kunyahan mulut dan larut di usus saya. Sedangkan Wetipo nampak sedang berjemur dibawah sinar ultra violet yang mampu membakar kulit jika tidak dilindungi "biar hangat mas" katanya meringis.

foto by dhave
Jalur Cuntel sejauh 7 kilometer diawali dengan menuruni tanah kering yang panas dan dikelilingi ilalang. Saya tambal lagi jari kaki, dirangkap dua untuk penahan gesekan, namun tetap saja lepas karena perekatnya kalah dengan terpaan debu. Terpaksa jalan pelan sambil menikmati gesekannya. Oiya bagi pendaki bercelana kolor, jangan main plorotan diatas rumput ilalang walaupun itu nampak mengasyikkan, tau tau pantat dan paha kamu perih karena lecet atau sobek *elus pantat*.

Sampai di pos 4 Cuntel (anggap saja begitu). rumput berduri dan ilalang tumbuh subur di kanan kiri jalan setapak, bahkan jalur hampir hilang karena tertutup ilalang, ditambah lagi banyakanya percabangan dapat membuat kita tersesat. Kami yang tertinggal berusaha mencari jejak dengan bertanya ke pendaki lain. "tadi lihat 3 orang turun pakai baju hijau?" namun mereka cuma geleng-geleng tidak yakin, lalu saya tanya lagi  "ada 2 orang papua dan turun pakai celana kolor?" OHHH IYA IYAAA lewat sini mas!. ternyata kata "papua" dan "celana kolor" jadi kata kunci sekaligus barang bukti yang manjur jika mereka hilang.


Akhirnya Lepas sandal gunung juga, walaupun kaki harus rela berpanas panas ria di permukaan tanah, lebih mending daripada ditusuk tiap kaki melangkah. Tony Matheo Takaeb yang mungkin berniat baik memberi penanda arah jalan malah bikin perkara dan cilaka. Disebarnya ranjau berupa ranting berduri di tiap 6 meter, , HEEEY TONY!! DURI ITU TAJAM DAN MENUSUK!, duri tidak seempuk remah wafer atau roti tawar jendral!. berasa pengen jorokin Tony dari pucuk Kenteng Songo langsung ke kawah Merbabu. Saya melanjutkan perjalanan seperti main game mario bross, melompati halang rintang berupa ranting berduri.

"lhoh kok nyeker mas?" sapa penyemangat dari para pendaki lain setiap kali berpapasan "hahaha pokoknya salahkan Tony!". 7.3 kilometer dengan waktu tempuh 3 jam menuruni jalur Cuntel di bayar lunas dengan telo rebus, teh hangat, air es untuk mandi dan pemandangan tenggelamnya matahari dibalik gunung Sindoro dan Sumbing. Lain kali kalau naik turun gunung, saya bakal pakai sepatu yang cocok dan nyaman, bukannya sandal atau malah telanjang kaki #okesip.

Sunset di Pos Cuntel Gunung Merbabu

13 comments:

  1. belum pernah lewat jalur situ, kapan2 pengen nyobain xD

    ReplyDelete
  2. muahaha
    naik gunung ada yang pakai celana pengen perosotan di ilalang?
    kasian ilalangnya kena bau pantat.

    ReplyDelete
  3. Oke saya akan ingat-ingat pelajaran itu (y)

    ReplyDelete
  4. Replies
    1. NOOOOOO... sekarang mending pake sepatu om

      Delete
  5. wah hebat, saya sudah ada bayangan jalan kesana, soalnya ada rencana ke situ..

    trima kasih infonya. :)

    ReplyDelete
  6. kereeenn
    terutama foto-fotonya gw suka banget..

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu fotonya dariku cuma yang pertama dan terakhir
      yang ke2,3,4 itu ambil dari foto tony, dhave

      Delete

Silakan berkomentar, jangan lupa senyum yang mesra dulu (hukumnya wajib) dan kunjungi juga blog sketsa Badakjawa dan Mobile photoblog SlamsPhoto.

NB : Harap tidak berkomentar jika hanya untuk nyepam dan menambahkan link obat-obatan. Jika ingin klarifikasi dan bertanya lebih lanjut, silahkan kirim lewat email.