HAE... saya bernostalgia "lagi" dengan lumut, batu dan gemercik air jatuh paling indah di lereng gunung Ungaran. Kali ini saya memandu legiun asing, 4 orang master Biologi dari Salatiga menjelajah Curug Lawe dan Benowo. Melakukan perjalan dengan manusia manusia ini sangat unik, paling tidak saya sedikit tau tentang nama latin atau ilmiah bermacam pepohonan, paraserianthes falcataria ( sengon) dan tectona grandis (jati).
Setibanya di Pos jaga sekaligus rumah kabag (mandor) perkebunan PT. Cengkeh Zanzibar, yang kami cari hanya mencari 1 hal, yaitu indomie. Ya... betul indomie rebus pakai telur ceplok kebul-kebul. Sepertinya energi dari segelas milo dan 2 potong roti pisang keju dari rumah sudah terkuras di 9 kilometer perjalanan Gunungpati - Brangjang - Dolo - Kalisidi (jalan kaki).
Untuk masuk wisata cukup membayar karcis 4 ribu per pantat. Pukul 9:50 kami lanjutkan perjalanan, masuk dalam rimbunnya kebun cengkeh sekitar 70 meter, kemudian belok kiri turun menyusuri parit, sudah ada papan penunjuk arahnya kok.
Walaupun sudah tidak ada jalan yang rusak karena longsor, namun harus tetap ekstra hati hati, karena kombinasi lumut dan air di sepanjang parit dapat membuat anda tergelincir. Pastinya anda tidak ingin terjun bebas bukan? karena sisi kiri adalah sungai dengan jeramnya yang deras dan berbatu, kedalaman sekitar 30 meter. Terkadang juga ada ranting bergigi piranha dari tanaman yang menjulur mirip pohon aren, siap mencantol apapun, termasuk telunjuk saya yang usil megang megang.
[foto dari perjalanan ke Curug Lawe 18 Julis 2010]
Metamorfosis adalah sebuah perjalanan yang panjang, berawal dari ulat, ulat yang rakus memakan dedaunan, merusak tanaman. Si ulat pun berubah menjadi kepompong, mengeraskan kulitnya dan mengurung diri. Saat waktunya sudah tiba dia keluar, makhluk yang awalnya buruk rupa kini menjelma menjadi makhluk yang sangat cantik dan memiliki sayap, semua itu butuh prosesnya. *ehh nyabung gak si sama topiknya?*
Berikut Laporan pada Minggu, 18 Juli kita hiking Ke Curug Lawe bersama komunitas nasikucing.com, loenpia.net, Samtug dan blogdetik semarang. Acara yang menyenangkan dan penuh perjuangan pada awalnya. Menyeberangi sungai, memanjat pohon tumbang, melompati bebatuan, terjerbab lumpur, menerjang rumput dan pepohonan. Rasa persaudaraan, aura kekerabatan, saling membantu, menjaga dan bekerja sama sungguh terasa saat perjalanan.
INTINYA menurutku :
proses itu lebih menyenangkan daripada hasilnya, anggap hasilnya sebagai bonus... *rak nyambung yo luweh*
Saya sudah tiga kali menuliskan Berita Curug Lawe ini, 2 kali di blog sendiri disini dan disitu, dan secara resmi telah di posting juga di blog loenpia.net, sampe mumpluk. hehehe daripada aku nulis lagi dengan mulut berbusa, mending lihat foto petualangan penjelajahannya yang luar biasa di foto album ini, klik fotonya :
Mendengar teman-teman mau kopdar ke Curug Lawe minggu ini, aku jadi teringat jaman masih SMP dahulu, sekitar tahun 2000-2001 berkelana kere-kere bersama satu genk. haha perjuangan yang melelahkan penuh tantangan tapi sangat menyenangkan, dan kadang seyum-senyum menggelikan kalo mengingat-ingat jaman itu.
Ceritanya selesai ujian kelulusan kelas 3 SMP pasti ada class meeting to?, dan class meeting dari jaman kompeni sampe sekarang cuma gitu gitu saja, BOSEN!!. Kemudian Muncul ide pengembaraan ke Curug lawe karena ada teman asal kalisidi mengajak kerumahnya (niat awal) "yok kerumahku, nyari kelapa muda sama durian!!". Gak jadi nyari durian malah bablas mblusuk curug.
Perjalanan cukup menantang, tanpa persiapan dan dengan bekal ala kadarnya(red=modal nekat), hanya berbekal sepatu yang menggantung di leher dan seragam Biru putih yang melekat dibadan. 5 ekor bocah ilang nekat Tanpa tedeng aling-aling langsung berpetualang.
Mendaki gunung lewati lembah
sungai mengalir indah kesamudra
bersama teman bertualang........nananana
(ingat lagu ini? yak ini lagunya ninja hatori. jaman itu masih sering diputar di tipi dan kita jadikan OST petualangan ini)
Perjalanan diawali dengan membabat kebun kopi didekat rumah warga, dan terus berjalan kaki menyusuri jalan berbatu (belum aspal). Medannya lumayan menanjak, disekeliling jalan hanya ada kebun cengkeh dan rumput-rumput yang bergoyang. dan disinilah perjalan dirasakan cukup melelahkan, tapi setelah masuk jalan pintas menuju saluran irigasi semua lelah itu hilang berganti dengan sejuknya hutan.
Petualangan dilanjutkan menyusuri aliran irigasi dan jembatan terbuat dari kayu yang sering disebut "Jembatan Cinta". Akhirnya bermuara di Sebuah DAM, di bendungan ini kita melepas lelah sejenak. Mulai dari sini perjalanan akan semakin menantang melewati aliran sungai, melompati batu dan memanjat dahan pohon yang rubuh, saya pernah tercebur karena terpeleset di sungai celana basah semua sampai dipangkal paha.
Nah diperjalanan perut melapar, usus serasa dililit anaconda, ternyata sudah siang dan belum makan apapun. Masing-masing sibuk mencari apa saja yang bisa dimakan karena tidak ada yang membawa bekal. Mengais-ngais disepanjang sungai dan sekeliling hutan, ternyata ada Pohon Kimpul atau biasa disebut Ketela pohon dan pisang sepet bantet belum mateng, lumayan lah buat ganjel perut. Kita membuat Api untuk membrongot (membakar) kimpul dan pisang bantet itu.
Belum lama dibakar dalam api dan itu pun belum matang tapi sudah pada tidak sabar mencomot. KAMPRETT DURUNG MATENG NDAA!!. akhirnya saling rebut, aku tidak mau kehabisan dong!! langsung pasang jurus tangan seribu, BAT BET BAT BET!! dapat kimpul gatel, biarin deh belum mateng asal tidak melapar dan efeknya buruknya mulut pada gatel-gatel digaruk terus. Perjalanan dilanjut masuk hutan menyusuri jalan setapak dan iseng bikin jalan sendiri walau hampir kesasar.
Tiba dilokasi air terjun, air mengucur deras dari tebing dengan ketinggian sekitar 4 kali pohon kelapa. Disekitarnya dikelilingi pohon beringin yang menjulang, hijau daun dan kicauan burung menyegarkan raga juga jiwa. Udara menjadi dingin akibat tetesan air dari deburan air bercampur angin. Tidak usah tunggu lama-lama langsung copot baju dan menceburkan diri dalam segarnya air terjun. ahhhhh segarrrr.....
Sekian sepenggal cerita dari si bolang jaman SMP berpetualang ke curug lawe, Pokoknya harus ekstra hati-hati membawa dan menjaga diri masing-masing disana. Jangan mandi dibawah air terjun karena sangat berbahaya, kita tidak tahu apa yang akan jatuh ke kepala kita entah ada kerikil, batu atau batang pohon yang hanyut dalam derasnya air terjun, cukup di pingir saja ya.
Curug Lawe, Pada tau curug lawe gak?
eh kamu kok malah tengok kanan kiri!! ya kamu!! aku nanya kamu yang lagi baca!!
Jawab aja gak tau ya biar saya bisa sok pinter menjelaskan!!! hehehe
hahahaha ngakak dulu ah... xixixixixi *tutupmulutsambilmerem*
Jadi begini sodara *ambil mic*
Saya sudah bisa dibilang hapal bin khatam untuk rute curug lawe ini, saya pernah 3 hari berturut-turut menjadi guide petualangan ke curug lawe!!! *angkat kerah*, saya tebelin nih 3 hari berturut-turut
edan tenan kowe slam!!! 3 hari berturut-turut?!! *sumpeli pake jempol*
iya betul tiga hari, tapi itu waktu masih jaman saya muda dulu, ketika masih SMP berarti sekitar tahun 2001, masih pakai celana pendek biru tua, masih jaman rambut model mandarin.
Yah kita tinggalkan saja masa kejayaan saya itu, Curug lawe itu terletak di Temanggung desa Muncar, hasyahhh prekk!! itu cerita menurut versi temanggung. Kalau versi menurut saya sendiri, Prof. Dr. Slamet Riyadi S.Pd Ahli Kandungan, Curug lawe itu masih masuk di kawasan Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang, Desa kalisidi, dekat dengan rumah saya Gunungpati, tinggal lompat jinjit sekali, ditambah 1000 langkah. Oh iya dari Curug lawe ini kita bisa tembus ke Curug benowo dan Nglimut, tapi sayang saya gak tau rute dan jalan tembusnya.
OKE jadi kita berencana, bulan ini mengadakan kopdar menjajah ke Curug Lawe, Untuk rute paling mudah bisa naik mobil atau sepeda motor melalui Ungaran - Sumur Jurang dan menanjak ke Kalisidi. Bisa juga dari Ungaran - Gunungpati - Dusun Branjang - Kalisidi (loh kok muter muter). Pokoknya dari kalisidi kita mulai tracking jalan kaki, mobil dan motor bisa kita titipkan di rumah warga setempat.
Diperjalanan selanjutnya dilalui dengan jalan kaki sekitar 2-3 kilo, diawal perjalan kita akan menemui kebun kopi dan kebuh cengkeh, dengan jalan yang berbatu, dan sampai sekarang sepertinya belum diaspal, tapi letih dan lelah tak akan dirasa setelah masuk dalam ringdangnya kawasan hutan.
Perjalanan kaki
Setelah memasuki jalan tembus ke rute curug lawe, kita akan menemui banyak pepohonan yang rindang seperti di film jurasic park, udaranya sejuk dan wangi bunga cengkeh semerbak.. hmmmmm *hirup udara dalam dalam*. Tapi hati hati kalau musim hujan jalanan licin dan berlumut, sebelah kanan ada sungai, dan sebelah kirinya adalah jurang, jangan tanya saya kedalaman jurangnya kaya apa!! tanya saja yang sudah pernah nyemplung ke jurang. Jalan selanjutnya masuk ke hutan, meraba-raba pohon, menyeberang air.
Jembatan cinta dan track yang dilewati
Jembatan Cinta
hati-hati awas licin
Aliran Sungai, awas pinggirnya jurang
Perjalanan melewati Sungai Bening dan dingin
Yak perjalanan yang menantang dan penuh perjuangan akan terbayar lunas saat melihat keindahan Deburan air, udara yang segar bercampur bulir embun. Menatap hijaunya pepohonan yang rindang, hmmmmmmmm....*menghirup dalam-dalam udara segar*.
Suasana Curug Lawe Dan Curug Benowo
Curug Benowo
Curug Lawe
Curug Lawe tampak jauh
Sunset Dari Atas kebun Cengkeh
Rencana awalnya berangkat hari minggu pagi tanggal 18 Juli 2010,