Teman Lari Yang Rewel

Friday, July 20, 2018



"Tenang, 2 tahun lagi bakal ada temen buat lari-lari, Slam!" Kata mas Fian memberi selamat di hari kelahirannya, 2 tahun lalu.

Benar juga. Setelah selama ini lari bersolo karir, akhirnya saya punya teman lari setelah menunggu 2 tahun lamanya. Fatih, anak lelaki dengan weton paling ampuh hitungannya ini, menurut orang jawa cenderung menangan ini, kini sudah bisa diajak jalan-jalan dan lari-lari ringan.

Kebiasaan juga sih, jika saya sedang libur kegiatannya adalah bangunin ayahnya tidur atau kebalikannya, lalu ajak jalan-jalan di sawah dan main ke rumah budenya, sekitar 1.5kilometer PP. Sedangkan ibunya lebih memilih menekuni hobinya di dalam rumah.

Baca Juga : Siapa bilang lari itu olahraga murah?

Pada hari minggu kemarin, kali pertama saya ajak Fatih jalan-jalan ke trek lari. Trek favorit saya di UNNES ini lumayan ramai pada hari minggu. Trek lari melingkar sepanjang 300 meter ini sangat nyaman buat kaki walaupun barefoot, di tengah terdapat lapangan sepakbola dan beberapa dimanfaatkan untuk tolak besi dan serbaguna.

Jika di hitung, saya sudah menghabiskan 5 pasang sepatu untuk lari di sini. Ketika menginjak garis trek, rasanya pengen lari 9 atau 10 putaran, namun tangan ini ada yang enggan melepas gandengannya. Baru lari 5 meter sudah teriak manggil-manggil.


"Buntutku" Ada bocah yang memegang erat jari tangan kanan saya. Saya lupa kalau sudah ada yang nggondeli. Maka saya urung, hanya jalan-jalan untuk menemaninya putar lapangan. Sekali-kali saya ajak lari "Ayo lari-lari" dan si kecil pun mulai mempercepat langkahnya yang gontai sambil goyang kanan kiri.

Baca Juga : Pilih Lari Sendiri atau Berkelompok?

"Boy, kalau lari biasa aja kenapa!" Larinya seperti oleng kena gempa, kepalanya geleng-geleng sambil senyum bahagia seperti ketika minta es krim dari lemari es Alpamat. Oiya, pantesan! kamu kan masih balita. "Nak, hati-hati, pelan-pelan, lihat jalan ya" kayanya kata-kata tersebut belum mempan dicerna. Maka gandengan tidak boleh lepas.

Rencana lari-lari muter lapangan gagal, baru satu putaran sudah bad mood dan minta gendong di ujung track karena takut melihat topi macan atau sesuatu yang tidak bisa saya lihat dengan mata telanjang. Terpaksa improvisasi, jalan sambil gendong bocah sampai pada akhirnya kehausan dan minta susu.

Boy, kalau gendongan kaya gini, harusnya berat badan di Endomondo perlu ditambah 13kilo deh. Berat tauk! bisa bisa boyoknya kumat. Mending kita main ke lapangan basket, gelantungan di latihan calisthenic atau ikut tante-tante senam saja.

You Might Also Like

2 komentar

  1. Jangan diajak maen sama tante-tante kak please

    ReplyDelete
  2. Ahahahaha, ini namanya momong bocah, mas. Wis dijak trekking sisan wae sek adoh.

    ReplyDelete

Followers

Find us on Facebook

Loenpia.net

ID Corners

Statistik

Blog