Demi kamu, Demi Keluarga, Jaga Dia

Friday, September 12, 2014


7 september, hari minggu dini hari sekitar pukul 00.30 waktu gunungpati setempat. aku jalan kaki sekitar 700 meter dari kampung sebelah (rumah kakak saya) menuju rumah mengambil.
langit begitu terang, udara tidak terlalu dingin, bintang pun gemerlap bergelantungan penuh canda di langit, beda sekali, berkebalikan dengan isi di sini dan di sini (nunjuk dada sama jidat).

Saat melewati pasar gunungpati, tepatnya di tempat sampah yang remang remang, ada bunyi berisik plastik yang diremas remas. nampak ada seorang kakek tua bercelana pendek, berbaju dan bertopi lusuh jongkok di bawah bak sampah sedang memilah gelas dan botol plastik air mineral. disebelah kaki kanannya juga ada pisau, sabit dan besi bengkok, mungkin itu dipakai untuk membersihkan plastik.

aku beranikan diri menghampiri, bertanya, karena itu juga jadi tanggung jawab seorang warga untuk menjaga keamanan lingkungan. seperti pada kalimat yang tertera dalam peraturan di buku jaga yang ada di pos kamling RT3/ RW3.
+"kok dereng wangsul pak?" aku ikut berjongkok mengamati sosok si kakek
 -"nggih, dereng tasih resik resik" jawabnya sedikit malas tanpa menatap mataku
+"kangge nopo pak?"
- disade (dijual)
+"asale pundi pak?"
 -"demak mas" jawabnya singkat
+"lha putrane pundi pak?"
-"nang omah, sekolah wis SMK" padahal aku tidak tanya
+"tinggal di mana pak?"
- "di sawit mas" jawabnya singkat sedikit ada ketakutan, padahal aku juga takut kalau pisaunya dihunus.


Hanya itu saja yang aku tanyakan, tidak mau disangkan menjadi ancaman. dada ini jadi tambah gemetar. aku rogoh uang yang ada di kantong celana sebelah kanan. entah ada berapa aku berikan semuanya mungkin sekitar belasan ribu. aku tarik tangannya "niki pak ada rejeki kangge keluargane", akhirnya si bapak sedikit menatapku "matur suwun mas" memegang tanganku dengan kedua telapak tangannya yang begitu kasar. lalu aku pergi pulang ke rumah yang tinggal beberapa langkah lagi.

setelah ambil obat kepala, kayu putih dan koyocabe, kunci pintu. aku lewat di tempat sampah yang tadi. ternyata si bapak sudah tidak ada, entah kemana.

sempat terpikir dan hati jadi teriris waktu itu, iya walaupun hati dan pikiranku juga sedang kalut.
Aku jadi mengutuk anak-anak yang tidak tau diri, anak yang asal minta, kalau tidak dituruti minggat, berkata kasar, mengancam, mengata-ngatai orang tua dengan kata yang  kasar dan tidak pantas. apa mereka tidak tau kalau orang tua mereka bekerja keras sampai larut malam, bahkan dini hari untuk mencukupi kebutuhan keluarga, walaupun dengan cara dan pekerjaan yang begitu kotor. semuanya itu demi keluarga. demi kamu.

kamu, iya kamu. kamu yang masih mempunyai orang tua dan keluarga yang utuh, jaga mereka.

foto ilustrasi dari sini 

You Might Also Like

6 komentar

  1. dan saya sangat mencintai kedua orang tua yang suda berkorban untuk saya.

    ReplyDelete
  2. wah ini pakek nyemplet yang dulu ye slams?
    ane jg bikin blog baru slams.. qkkqkq..



    Living in Kanazawa

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini masi pake template bawaan om, cuma ganti warna dan susunan... sama beberapa meta..

      mampir dah ke blog kanazawa

      Delete
  3. aduh saya jadi sedihh ngebayanginnya.. semoga dia hidup bahagia , terimakasih mas sharingnya

    ReplyDelete

Followers

Find us on Facebook

Loenpia.net

ID Corners

Statistik

Blog