Trailrunning Merbabu Part 1

Friday, August 30, 2013


"WOOY TONIII... PAHA KIRIKU KERAM!!! saya teriak dalam hati saja, malu dong sudah banyak orang di puncak Kenteng Songo Gunung Merbabu. Saya cuma melambai dari puncak seberang sambil menunjuk paha kiri yang harus diseret setelah otot tertarik di tanjakan terakhir.

Dhave bilang jalur Wekas adalah jalur terpendek, jaraknya hanya 5.76 kilometer, tapi tetap saja bakal terasa berat karena perjalanan secara tik-tok tanpa mendirikan tenda atau berlama lama di puncakditambah lagi selama puasa dan libur lebaran lutut saya sama sekali belum dilatih joging atau basket. Tetapi Jalur ini cukup nyaman kok daripada jalur Cuntel, Thekelan atau Selo, terutama bagi pendaki yang baru pertama kali ke merbabu. Kenapa? karena persediaan air melimpah, pohon pinus dan cemara yang menjulang tinggi sangat memanjakan mata. Pepohonan yang rimbun meneduhkan langkah kaki dan detak jangtung yang mulai berdegub kencang.
POS 1 Wekas (dari kiri) Dany, Saya, Tony, Herry, Yafeth Wetipo, Dhave

Gunung merbabu, jalur wekas pos 4 
Jalurnya memang sejuk, tapi sebuah masker dibutuhkan untuk menyaring debu yang menyumbul ke udara siap menyumbat bulu hidung atau melekat di langit langit mulut. Belum lagi saat tubuh menyesuaikan diri dengan udara merbabu Hidung akan terasa pengar, bersin bersin dan meleleh.


09:33 saya sudah ditunggu Yafeth, Dany dan Tony di pos 4, sedangkan Herry sepertinya masih jauh di belakang mengatur langkah, sedangkan Dhave mungkin sudah sampai di puncak, makan wafer atau foto foto di puncak pakai lensa fish eye. Di taman yang lumayan lapang ini angin bertambah kencang dan dingin walaupun matahari begitu terik, saya berlindung dibawah pepohonan, menghangatkan diri dengan menanggalkan baju dalam yang basah dan mengenakan jaket. Puncak puncak merbabu sudah nampak, dari sebelah kiri saya bisa melihat Puncak Watu Tulis dengan pemancar sebagai penandanya, Puncak Kukusan berada di tengah lembah, Puncak Syarif dan Kenteng Songo juga nampak di pucuk.

Terlalu lama beristirahat malah akan menyiksa otot kaki, waktu pun banyak terbuang, karena perjalanan selanjutnya akan lebih berat, tanjakan berbatu, alang-alang, pasir dan kawah belerang sudah menunggu didepan. Oiya, banyak sekali bunga edelweis tumbuh di kiri dan kanan jalan, lumayan jadi pengobat sepi. Sepasang tangan yang mengkerut kedinginan jadi gatal ingin memetik sebagai cindera mata, tapi...ahh sudahlah...

Sampailah di watu tulis, yaitu pertemuan jalur Cuntel dan Thekelan, Tony dan Dany lahap mengunyah roti tawar di atas batu. saya cuma bisa memandang, karena yang tersisa di dalam tas cuma permen karet dan tolak angin saja, persediaan makanan dibawa Dhave bhahaha. Sepertinya angin yang semakin kencang dan dingin telah menguras tenaga dan kalori.

Di depan mata, Jembatan setan yang panjang terjal berbatu dan gundukan Geger sapi terlihat jelas, jaraknya sekitar 200 meter jadi tantangan selanjutnya. HMMM…AAAHHHH... saya menarik nafas dalam dan mulai melangkah dengan jari kaki yang mulai perih, lecet karena memakai sandal gunung yang tidak tepat dan kurang nyaman.

Pemancaar, Puncak watu tulis, Jembatan setan dan Geger sapi, foto diambil dari atas
Di tengah jalan saya berpapasan dengan Dhave yang melompat-lompat turun menapaki batu seperti kambing gunung. “puncak sedikit lagi kok, kalau gak kuat jangan dipaksakan! Ingat dengkul mas!”. Sepertinya dia tau kalau ada yang tidak beres dengan dengkul. “hah, sudah sampai sejauh ini kok balik kanan! Malu dong sama monyet yang berkeliaran di pos 4". Dan saya lanjutkan langkah pelan pelan sampai di pertigaan langsung belok kanan menuju puncak 3142mdpl. Sebenarnya rugi melewatkan puncak Syarif 3119mdpl yang ada di kiri.


Puncak sudah dekat, tinggal melewati punggungan panjang dan tanjakan vertikal yang terjal berbatu disebut “Ondo Rante”. saya harus bergumul dengan debu hitam, memanjat dan mencari pegangan dari batu yang stabil atau akar pohon seperti atlet panjat tebing untuk melewatinya. Kenteng Songo akhirnya tercapai juga. nama Kenteng songo sendiri dihubungkan dengan adanya batu kenteng berjumlah sembilan, bentuknya bulat dengan lobang ditengah, namun sekarang sudah tidak utuh, banyak coretan dan ada yang hilang oleh tangan jahil.

Ondo Rante, saya sempat main plorotan di sini sampai celana kolor bolong.
11.55 Sakit di kaki kiri yang tadinya keram dan harus diseret karena tertekuk dan tertarik di Ondo rante hilang dalam sekejap setelah sampai di puncak. Saya melambai ke Toni dan Dany, memberi kode supaya menunggu sebentar. Malu teriak, karena di puncak sudah ramai pendaki, ada yang romantis di pojokan, ada juga yang khidmat upacara di atas memakai toga, mengibarkan bendera merah putih dan menyanyikan lagu syukur. Saya? saya ngapain? Saya sibuk mencari kupluk penutup jidat yang jatuh entah dimana.

Puncak Kenteng Songo dengan Background Gunung Merapi
Pemandangan dari puncak Kenteng Songo Merbabu
Perjalanan 5.76 kilometer menuju puncak dari Jalur Wekas dengan waktu tempuh hampir 4 jam. Di puncak cuma 15 menit, karena matahari sudah tidak bersahabat, panasnya mampu membakar tengkuk bila tidak diolesi sunblock. Cukuplah dengan menikmati suasana puncak Merbabu, foto apa yang perlu di foto dengan kamera hape G502, lalu turun kembali. Nah perjalanan turun gunung lewat Jalur Cuntel akan lebih gemetar dan menyakitkan bagi sepasang kaki dengan sandal gunung laknat.

Bersambung...

You Might Also Like

12 komentar

  1. Dengkulmu kok sih rosa rosa men to slam,
    mbo dalane diaspal ben iso nggo diliwati kendaraan ngono kek, mosok sing ono dalane kendaraan gur telomoyo tok... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. dengkule wis ditanam logam adamantium bhahaha
      itu sudah disambi keram

      Delete
  2. tik tok kayaknya berasal dari take top, cuman muncak terus mudun lagi :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. oh iya to?
      tik tok, kalau ngajak cewek pasti pada sambat
      moyen mau nyoba ?

      Delete
    2. sleeeeemm.. pengen, tapi mbok ojo tik tok :|

      Delete
    3. lain kali diagendakan gak tik tok, tapi gak pake nginep siap ya

      Delete
  3. walah om tak awe..awe.. ik jian ora mbalas lambaian tangan daku..h.eh.e...

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, ngawe awe soko endi om? kota gede ketutup awan je

      Delete
  4. nek sandal gununge laknat, yowes diguwak ae toh slam, mesakne dengkulmu. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. eman eman hehe... langsung tak pensiunkan

      Delete

Followers

Find us on Facebook

Loenpia.net

ID Corners

Statistik

Blog