Jogja Here I come BAB 2

Monday, December 15, 2008

Akhirnya Sampai juga di Pantai Kukup

Sesampainya Bus di TKP Kukup beach, wah perasaan sudah tidak enak, perut serasa diaduk aduk dan kepala serasa dihantam godam.
Aku ambil tas punggungku, lalu ngacir ke kamar mandi, gak tahan.........
Lumayan lega,
Sambil ganti celana Pantai warna biru bunga bunga khas bali, aku plorotin Jeans Forex size 30, atasan Cresida Hitam ketat yang aku beli Lebaran kemarin, bau pabrik aja masih kerasa.
Aku cangklong punggungku, aku kencangkan Sandal Gunung New Era yang udah agak usang.
Ternyata kedua temanku juga sudah menyusul di kamar mandi, ada yang mengeluarkan jurus Tarian perut dan menumpahkan isi didalamnya, itulah lisa dia juga mabuk berat.
Sedangkan Si Fendi masi Sehat segar bugar, dia kekamar mandi cuma Buang Hajat dan cuci muka.

Di pantai Kukup pukul 11.40, matahari sudah bertengger diatas ubun ubun.
Puwanas banget, Untung tadi aku pakai sandal butut penuh kenanganku. kalau tidak wah aku sudah berjingkat jingkat seperti kadal penari di gurun pasir.
Sesampainya dibibir pantai "wuiiiihhhhh.... " ada karang menjulang menghampar didepanku, airnya hijau berbuih. Air pantai tertiup angin, membuat embun berhembus dan menampar kearahku.
Menoleh disebelah kiriku, ada karang yang besar dan diatasnya berdiri sebuah gubug, yang lebih panas disebut gazebo. sebuah tempat yang sangat cocok untuk melihat seluruh keindahan yang ada dipantai kukup.

Aku keluarkan Nokia 3500 dari saku kananku dan siap untuk mengabadikan momen tersebut. sambil memesan 3 buah kelapa segar, kita bertiga duduk diatas tikar sewaan gratis untuk tamu yang membeli kelapa,
tak slutup , ku minum air kelapanya dan aku congkel dagingnya yang masi empuk dan berwarna putih.
"srruuppp...uuuuuhhh segar" aku berakting seperti pak bondan pembawa acara kuliner di Trans TV dan gak lupa mengucapkan kata ajaibnya " Mak Nyuusss"

Tiba tiba ada sebuah megafone memanggil manggil rombongan dari PT. semarang garment untuk kembali ke Bus dan melanjutkan perjalan ke Pantai Baron.
Dengan sangat terpaksa kita harus meningalkan pantai, dan berjalan berjingkat jingkat ke tempat parkir bus karena kaki yang kepanasan.

Ditengah jalan menuju parkiran, bau harum semerbak diantara warung warung yang menjajakan aneka masakan laut. Aku mengendus endus, seperti anjing pelacak yang sedang mengejar buronan. Ternyata warung tersebut menjajakan Udang goreng yang masi hangat, baru saja diangkat dari penggorengan. udang yang harum berbalutkan tepung yang renyah.
aku sodorkan uang Rp.10.000,- aku dapat dari saku Lisa, karena dompetku belum ketemu aku cari dari dalam tas punggung. Dua piring Udang Goreng yang renyah siap disantap.

Bus akhirnya berjalan lambat keluar tempat parkir Setelah semua Rombongan Tour duduk di kursi yang agak keras itu. Lima menit pejalalanan yang menanjak, dan dibawahnya ada turunan yang lumayan curam terjadilah hal yang tidak diinginkan.
Tiba tiba Ada Bus Angkutan Plat Kuning dari arah berlawanan Tergelincir dan ambruk didepan Bus kami karena tidak kuat menanjaki gunungan. Kaca depan Remuk berhamburan di aspal dan bagian kiri bus hancur bengkok. Para penumpang berhamburan keluar.
Untungya tidak memakan korban jiwa, yang terlihat haya pak supir yang pipi kanannya mengucur darah segar sobek terkena pecahan kaca.
Seorang ibu gendut setengah baya pingsan dan ditolong oleh bapak bapak yang kemungkinan adalah suaminya.
Seorang lagi Wanita yang tak sadarkan diri digotong gotong oleh seorang bapak berpeci keluar dari Bus naas tersebut.
disana ada 5 anak kecil yang alhamdulilah hanya menderita luka luka kecil
2 remaja wanita dan 2 orang remaja laki laki. Salah Seorang wanita remaja shock dan menagis sekencang kencangnya, dia shock berat dikarenakan khawatir dengan keadaan seorang ibu tergeletak tak sadarkan diri berada didepannya yang kemungkinan adalah ibunya. Kaki kirinya berdarah dan sikutnya lecet terkena serpihan kaca, celanya basah, dia shok ketakutan sehingga kencing dicelana. Dia meraung raung kesakitan dan tak memperdulikan orang disampingnya yang berusaha untuk menenangkannya.
dia terus berteriak sambil mengacungkan telunjuknya kearah Ibu yang tak sadarkan diri "Ibuku piye, ibuku kae lho piye? aku moh numpak bus, numpak motor wae" dia berteriak berulang kali.
kondisi jalan yang menanjak seperti gungan tersebut ramai, macet banyak orang yang berkerumun melihat kecelakaan tersebut. Dari arah atas puncak jalan bertengger Bus Nugroho dan mobil sedan Polisi Warna putih biru. Polisi bergegas mengamankan Lokasi kecelakaan dan mengatur jalannya lalu lintas agar dapat kembali lancar. Dari arah bawah juga banyak Jeep dan Mobil carry yang parkir sembarangan menunggu untuk lewat.
Mobil ambulans, Mobil patroli polisi akhirnya berdatangan untuk mengevakuasi para korban dari arah bawah dan dengan segera menandu para korban.
Jalan Masi macet karena badan bus yang oleng menyilang ditengah jalan menghalagi lalulintas dari arah atas dan bawah. Akirnya Polisi berinisiatif untuk menggeser badan bus ke pinggir jalan supaya jalaur dari atas dan bawah bisa lancar kembali.
Tanpa pikir panjang Aku dan Fendi segera Turun menyingsingkan lengan baju dan ikut mendorong dari arah depan bus, dengan seremapak dan dalam hitungan " satu.... dua... tiga....Dorong!!!" seluruh relawan berusaha sekuat tenaga menggeser bus tersebut ketepi jalan.

" satu.... dua... tiga....Dorong!!!"
" satu.... dua... tiga....Dorong!!!"
" satu.... dua... tiga....Dorong!!!"
" satu.... dua... tiga....Dorong!!!"

setelah lima kali mendorong, akhirnya bus pun telah disingkirkan ketepai jalan. Setelah jalan aman dari pecahan beling dan besi yang berserakan di aspal goreng itu, kita berdua kembali kedalam bus dengan keringat yang terjun bebas dari dahi hingga ke leher.
Dan Bus Nugroho pun meluncur dengan hati hati melewati bangkai bus naas tersebut.
Masih terlihat para korban kecelakan tersebut, kedua ibu yang pingsan berada didalam ambulans putih, dan sisa lain anak anak, 4 remaja supir dan kenek bus naik mobil polisi yang terbuka sambil diobati oleh tim penyelamat.

Kita semua ikut prihatin, dan merasa kasihan.. tapi bagaiaman bisa. Aku cuma berdoa semoga Mereka semua Kembali sehat dan tidak ada korban jiwa.

Bus lanjut ke Pantai Baron, hanya lima menit saja dari lokasi kecelakaan
Seluruh rombongan turun dari bus dan dibagikan 1 kardus nasi untuk makan siang, berpencar dan mencari tempat teduh untuk melahapnya.
Aku, Lisa, Fendi, Tutik dan Pacarnya mampir kemushola dan mengambil air wudhu, setelah shalat Dhuhur kita berjalan menyusuri pinggir pantai dan mecari tempat teduh tepat dibawah bebatuan karang yang menyamping berdiri miring 45 derajat seperti payung disebelah kiri daerah pantai. Memesan Es Fanta Merah dan mengelar tikar sewaan, dibawah karang itu kita makan siang.
Selesai makan, Aku dan Fendi Berjalan kesebelah kiri pantai dibawah karang untuk mencari tempat eksotis untuk pemotretan perdana. Akhirnya tempat yang lumayan bagus ditemukan. Nokia 3500 c aku keluarkan dari kantong celana pantai sebelah kanan dan mulai bergaya bak foto model Iklan Sabun.
"Jeprat jepret jeprat jepret"
"Jeprat jepret jeprat jepret"
M
encari anggle yang tepat dan alhasil 20an foto berbagai pose berhasil direkam dalam Micro SD Visiporo kapasitas 1 GB yang bakal aku pajang di Album Friendster.
Membuat Video Amatiran, dan ikut nimbrung Mba Elta yang sedang Berpose mesra dengan kekasihnya diatas batu.

Pantai Terasa Panas menyengat sekali, tepat pukul 13.00 kulitku sudah lumayan merah gosong dipanggang matahari. Pantai menjadi riuh ramai seperti dipasar hewan Amabarawa yang lagi tiba hari jawa PON, Ratusan pengunjung dari anak anak, bapak ibu, dan remaja anak SMA yang bergerombol menyerbu pantai berenang dan bermain ombak, menguburkan tubuhnya dipasir.
Aku meminta Lisa untuk mengambil video waktu kami nyemplung berenang dan bermain dipantai air payau yang lumyanan kotor dan berombak sedang. Hanya aku yang berani berengang ketengah, dan pengunjung lain hanya bermain ombak dan pasir dipingiran.
wuih banyak sekali gadis gadis cantik yang berpakain ketat dan menerawang terlihat pakaian dalam dan kulitnya karena basah setelah tercemplung dipantai.
"Lumayan Pemandangan penyejuk mata setelah berada dibus 4 jam lamanya" aku berkata dalam hati sambil memandangi orang orang yang berada disekeliling.

Setelah sekitar 30 menit berada didalam air dan sempat meminum 1 tenggak air asin, serta beberapa sendok yang masuk kehidung tiba saatnya kembali kerombongan untuk melanjutkan perjalan karena sudah tiba saatnya untuk meninggalakan pantai dan mengejar waktu menuju Malioboro.

You Might Also Like

0 komentar

Followers

Find us on Facebook

Loenpia.net

ID Corners

Statistik

Blog